Hamengkubuwono IX, Open Source, dan Kita

Pendahuluan

alam logika sepintas saja, mungkin sulit sekali menghubungkan Sultan Hamengkubuwono IX dengan Open Source. Logika sederhana, paling tidak, hanya akan mereferensikan wacana Sultan sebagai ikon kuno, kepemimpinan, dan masa lampau. Sebaliknya, wacana Open Source menjadi ikon modernitas, teknologi, dan kekinian.

Sultan Hamengkubuwono IX (HB IX), salah seorang raja Mataram, pahlawan nasional negara kita, tokoh kemerdekaan, serta pemimpin dengan jiwa kerakyatan yang karismatik. Beliau lekat dengan ungkapan “Tahta untuk Rakyat”. Semua berasal dari berbagai cerita yang tersebar melalui media dan kisah-kisah lisan di masyarakat.

Open Source juga adalah salah satu raja dalam “kerajaan” piranti lunak dunia teknologi informasi, pembawa semangat kemerdekaan, penyebar dan pengembang pengetahuan melalui teknologi yang ekonomis.

Melalui persamaan-persamaan itulah benang merahnya akan ditarik dan dijadikan bahan obrolan kita selanjutnya.

Patriotik Membela Negara

idak ada sangkalan kita tentang hal ini pada Sultan HB IX. Banyak gambaran sejarah melukiskan berbagai sikap pembelaan beliau pada tanah airnya. Kisahnya menghadang kedatangan Belanda di muka istana, sikap heroiknya membiayai gaji para menteri saat Indonesia dalam pengungsian di Yogyakarta, hingga apa yang dilakukannya saat menjadi wakil presiden RI sudah cukup menarasikan jiwa besar itu.

Sultan HB IX, yang memiliki latar belakang pendidikan Barat malah tidak pernah lekang cintanya pada Indonesia. Terbukti, justru dengan talentanya, beliau menjadi tercerahkan untuk menyambut panggilan Pertiwi yang membutuhkan pemimpin seperti dirinya. Padahal dengan semua yang dimiliki, bisa saja beliau memilih jalan yang berbeda dengan memanfaatkan harta dan kedudukannya untuk menikmati privilege sebagai raja, seperti yang dilakukan raja-raja Eropa di Era Kegelapan. Ternyata yang seperti itu tidak dilakukan HB IX, dia memilih jalan patriotik: membela tanah air.

Open Source pun sejalan dengan semangat itu. Dalam tatanan Open Source pembelaan pada kepada para pengguna adalah sisi berlawanan dengan konsep dasar industri yang membela kepentingan pengusaha dan kapital. Konsep ini memutar balik sebuah sistem yang sudah berlangsung sejak Revolusi Industri.

Secara sederhana dalam logika industri, orang “dipaksa” membeli dan menggunakan apa yang ditentukan produsen. Secara tidak langsung dituntut menjadi konsumtif: mengeluarkan biaya, menjadi tergantung, menjadi “ketagihan”, dan menjadi terus membeli. Open Source sebaliknya: pengguna dipersilakan memilih sesuai kebutuhan, menggunakan, mempelajari, memodifikasi, dan mendistribusi tanpa membayar apapun secara finansial atas semua layanan itu. Mereka bahkan di-encourage untuk memberdayakan dan menjadikan diri mereka agar mandiri.

Empatis dengan Sekitar

isah empati Sultan HB IX tersebar di mana-mana. Hampir semua sikapnya menunjukkan jiwa yang nJawani: rumangsa dan tepa salira. Dalam diri beliau barangkali tertanam begitu kuat sifat empatis itu. Oleh karenanya, beliau  ditakdirkan menjadi raja yang bijaksana.

Alkisah suatu ketika beliau diperlakukan sebagai sopir, disuruh-suruh seorang penjual pasar Kranggan untuk mengantarkan pikulan dan barang-barangnya ke pasar tersebut. Setelah belakangan tahu bahwa sang sopir adalah rajanya, konon si pedagang pasar itu pingsan.

Cerita di atas begitu memesona kita. Betapa tidak, raja yang duduk dalam hirarki tertinggi sebuah komunitas kerajaan, ternyata begitu empatis dengan beban berat rakyatnya. Mirip kisah Umar ibn Khattab r.a. ketika ia membawakan sekarung gandum, pada suatu malam untuk sebuah keluarga kelaparan yang bahkan tidak tahu siapakah si pengangkut gandum yang dermawan itu. Sebuah kejadian yang jelas menunjukkan empati seorang pemimpin yang turut merasakan apa yang dialami rakyatnya.

Kedermawanan Sultan HB IX dan Umar r.a. terjadi di dalam dunia teknologi informasi.

Richard Stallman, salah satu pelopor Open Source (Free Software), menyampaikan pernyataannya: The idea that the proprietary software social system—the system that says you are not allowed to share or change software—is antisocial, that it is unethical, that it is simply wrong. Sebuah manifesto yang sangat keras ditujukan kepada industri closed source—industri piranti lunak yang mengharuskan orang membeli sebelum menggunakan program sekaligus melarang modifikasi dan distribusinya.

Open Source-Free Software mendistribusikan secara gratis untuk publik aplikasi maupun operating system. Bukan itu saja, proses penggunaan, modifikasi, dan distribusi tidak dinyatakan sebagai tindak kejahatan. Pengguna bahkan diberi banyak bantuan cuma-cuma atau rendah biaya (jika ada). Kalaupun berbiaya, servis yang diberikan vendor Open Source sifatnya lebih banyak pada penggantian biaya produksi ketimbang profit. Sekali lagi itu membuktikan bahwa orientasi yang berpihak pada kebutuhan pengguna. Ya, dengan memberikan kesempatan yang luas untuk penggunaan, modifikasi, dan distribusi. Sebuah orientasi pembelaan yang humanis-empatik yang diberikan Open Source pada penggunanya.

Berjiwa Merdeka Berawal dari Keberpihakan pada Potensi Internal

erdeka dalam makna bebas dari penjajahan bangsa lain, jelas merupakan tema yang sama yang dibela para pejuang dan segenap bangsa Indonesia sejak era Kebangkitan Nasional tahun 1908. Demikian pula Sultan HB IX, sekalipun dirinya memperoleh pendidikan dari Barat yang notabene negara penjajah, beliau tetap berkomitmen menjauhkan bangsa ini dari penjajahan. Pendidikan alami yang diterimanya dari kehidupan keseharian bangsanya sendiri yang njawani, ternyata tidak dibatasi oleh dinding dan protokoler keraton.

Berjiwa merdeka dipahami sebagai keberpihakan pada potensi internal bangsa sendiri. Artinya, itu mengabaikan atau menghancurkan mitos dan jargon palsu yang dibuat penjajah seperti ketidakmampuan dan keterbelakangan pribumi. Bukankah faktanya kemandirian bangsa kita telah ada jauh saat kerajaan Kutai berdiri di abad 4 M? Bukankah kemandirian politis sudah ditunjukkan jauh hari saat Sriwijaya dan Majapahit merentang kedaulatan sepanjang Nusantara? Bukankah kesadaran berbangsa dan berserikat sudah dimulai 1905 saat Serikat Dagang Islam berdiri?

Open Source-pun demikian. Apresiasi pengembang piranti lunak bukan hanya kepada para programmer-nya saja, namun juga pada para penggunanya. Para pengguna dilibatkan dalam pengembangan Open Source. Pertanyaan, keluhan tentang prosedur, bug, saran, dan kesan dari mereka dijadikan sebagai penyempurna piranti lunak.

If you treat your beta-testers as if they’re your most valuable resource, they will respond by becoming your most valuable resource. Demikian salah satu pesan Eric S. Raymond dalam The Cathedral and the Bazaar tentang bagaimana membuat piranti lunak Open Source yang baik.

Secara langsung pengembangan Open Source memang berpihak kepada potensi internal pengguna dengan menjadikan mereka sebagai resource yang hebat dan bisa diberdayakan. Open Source berupaya menyadarkan para penggunanya bahwa mereka adalah bagian yang besar dan berarti dari sistem pengembangan. Tidak seperti closed source yang cenderung memberikan tuntutan kepada para pengguna untuk menerima apa adanya yang diberikan oleh pengembang, sehingga penggunanya cenderung pasif dan pragmatis.

Taat Hukum

agaimana Sultan HB IX berhadapan dengan polisi Royadin adalah kisah inspiratif lainnya. Kebesaran jiwa Sultan dan Royadin terlihat di sana. Royadin berupaya menegakkan hukum dengan benar dengan menilang Sultan yang melanggar lalu lintas. Sultan HB IX sebagai pelanggar hukum pun taat menerima tilang tersebut dengan menyerahkan rebuwes-nya sebagai tanda tilang.

Sisi  kebesaran itu cermin dari keharusan setiap  individu yang hidup dalam tatanan masyarakat dengan menghormati hukum yang berlaku–tanpa memperhatikan siapapun dia.

Open Source pun demikian. Kebebasan menggunakan, mempelajari, memodifikasi, dan mendistribusi piranti lunak adalah sebuah upaya untuk taat pada hukum. Apa sisi-sisi ketaatan itu?

Kesatu, dengan mengunakan Open Source seharusnya orang tidak lagi melakukan tindakan pembajakan karena tidak terbelinya piranti lunak berbayar. Orang hanya tinggal mengunduh, menginstalasi, dan menggunakan. Nyaris tanpa biaya dan: legal!

Kedua, sekalipun bebas biaya dalam banyak hal, produk-produk Open Source juga terlindungi oleh ranah hukum, konvensi, hingga kesepakatan-kesepakatan umum yang juga harus dihormati. Artinya, sekalipun banyak hal yang dibebaskan, itu bukan berarti kebebasan tak terbatas. Kita diharapkan menghormati kerja orang-orang yang telah berkontribusi dengan tetap menjelaskan sumber, data modifikasi, dan tetap mengizinkan orang lain mengakses dan menggunakan hasil modifikasi kita.

Dalam konteks praktis yang sangat luas, Open Source sebenarnya merupakan sebuah solusi yang baik untuk mengedukasi publik melalui alternatif menghindarkan diri dari perbuatan melanggar hukum sekaligus memberi pilihan sarananya sekalian untuk taat hukum.

Berpikir Terbuka Demi Kemajuan

engan cara berpikir yang terbuka, pendidikan Barat yang konon demokratis dan pendidikan istana Jawa yang aristokratis ternyata menghasilkan seorang Sultan HB IX yang berpikir modern sekaligus tetap memijakkan diri pada keluhuran budaya bangsanya. Bukan menjadi sultan yang mengeksploitasi ke-raja-annya. Bukan pula raja yang skeptis yang tak berbuat apapun atas semua kejadian di kerajaannya. Tentu kita tidak akan melihat peninggalan yang baik, jika Sultan berpikir tidak terbuka.

Cara berpikir yang sama sebenarnya juga ditularkan oleh Open Source kepada para penggunanya. Mereka diedukasi untuk selalu terbuka dengan hal-hal baru, karena lompatan teknologi informasi selalu membuat kejutan-kejutan setiap inovasinya. Sudah menjadi hukum alam bahwa setiap inovasi yang baik akan semakin meningkatkan taraf kehidupan menjadi lebih baik. Kemudahan dan kepraktisan teknologi yang baik juga akan menyadarkan orang akan sisi kemanusiaanya sebagai makhluk sosial.

Cara berpikir terbuka yang dibangun oleh Open Source juga mengingatkan para penggunanya bahwa source code terbuka adalah bentuk praktis membagi kebersamaan melalui penguasaan teknologi IT. Pengembangan Open Source melalui komunitas-komunitas yang ada di dalamnya sekaligus membalikkan logika industri piranti closed source yang berpangkal pada penguasaan individual.

Lalu, Bagaimana Kita?

oentjaraningrat dalam salah satu definisi yang ditesiskannya menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

Sultan HB IX dan Open Source memberikan banyak keteladanan bagi kita. Kita bisa belajar banyak untuk menjadikan kehidupan kita menjadi lebih baik dengan sikap patriotik, empatis, jiwa merdeka, menghormati hukum, dan berpikir terbuka.

Dengan demikian, implementasi teknologi yang kita lakukan akan meningkatkan kualitas kehidupan kita tanpa harus mereduksi nilai-nilai kemanusiaan yang semakin berkurang oleh gerusan arus modernisasi yang semakin kuat. Menggunakan teknologi dengan kesadaran demikian akan menjadikan kehidupan kita maju sambil tetap mempertahankan harmoni kita dengan alam.

Maka dengan ber-Open Source, sebenarnya kita telah meneladani  Sultan Hamengkubuwono IX dan para pemimpin lainnya  dalam kerangka  membangun kehidupan yang lebih baik dengan teknologi informasi yang patriotik, empatis, merdeka, legal, dan lebih terbuka.

Ayo ber-Open Source!

***Gambar berasal dari sini dan diolah dengan Inkscape dan GIMP

31. May 2012 by sad_ewing
Categories: Migrasi | 47 comments

Kita, Tuhan, dan Kedewasaan

Drawing bicycle

Perempatan Purna Budaya, ’92.

j-drop-capelas, panas terik matahari Yogya siang itu hanya menambah kerutan dahi saya yang harus ngonthel melalui jalan Kaliurang sana. Pulang ke kos. Bubar kuliah, seselesainya shalat di mushalla Sastra yang sempit itu. Entah takdir apa yang menentukan–dari Fakultas Sastra biasanya dengan sepeda unto—saya, kok, milih jalan itu ketimbang mlipir ke Karangbendo, Karanggayam sampai di Pandega Mandala.

Di perempatan itu—sekarang namanya Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri—ada lampu merah. Buatan anak-anak Teknik, konon. Kakak ipar saya, katanya, terlibat dalam pembuatan lampu ajaib itu. Ajaib? Ya… bahannya berbeda dengan lampu umum biasa. Kacanya kaca jendela berwarna biasa, bukan kaca khusus untuk traffic light. Warna hijaunya lebih muda. Dan plat besinya sepertinya seng yang tipis. Lha, ajaibnya apa? Ya, itu.. banyak matinya ketimbang nyalanya! He.. he.. itu mah biasa, atuh

Siang itu si traffic light menyala. Saya yang dari tadi mengerut-ngerutkan dahi, berkeringat kepanasan, eh, kebagian merah pula. Jadilah menunggu. Jangan tanya rasanya.

***

arena saya hendak ke kanan, maka saya mengambil perhentian agak tengah. Di kiri saya, sedan bagus. Seorang ibu, wanita karir. Mungkin. Saya hanya melihat tampilan yang rapi. Rambut tertata. Blazer yang licin, dan parfum yang wangi! Berbanding terbalik dengan gaya mahasiswa saya: lethek, sepedahan, penuh keringat. Di belakang saya, ada motor lain dengan dua penumpang. Mahasiswi. Ini juga mungkin, lho, jika dilihat dari buku-buku yang dibawa oleh mereka. Di kanan saya, seorang pemuda. Gaya masa itu, dengan kemeja flanel kotak-kotak, gondrong, dengan tas punggung. Motor trail, pula! Mungkin semua simbol maskulinisme dan machois yang lengkap sudah. Tampang oke. Tunggangan oke.

Ya, Tuhan, saya jujur: agak minder, saya, saat itu.

Si pemuda gagah itu sejak berhenti, tidak henti-hentinya menarik gas dan memainkan koplingnya. Roooom. Rooom… klak. Room, rooom.. klak. Mengaum, menyalak. Seperti siap menerkam, begitu. Tidak sabar menunggu lampu hijau. Kendaraan gaya itu selalu terhentak-hentak hendak melompat, sepertinya. Mungkin jika di arena, motor in hanya tinggal menunggu bendera start diangkat.

Annoying!

Si Ibu dalam mobil sedan kelihatan sekali tidak senang. Melirik tajam sambil sedikit memiringkan kepala, dan menaikkan sedikit kaca jendelanya. Kedua mahasiswi di belakang jelas tidak nyaman. Asap dari motorcross itu. Mereka menggeser motor mereka ke belakang mobil si ibu. Sambil bersungut-sungut. Saya, yah.. karena hanya jadi pelanduk di antara tiga gajah, yaaa… hanya bisa mengaruk kepala, walau tak gatal. Berharap lampu hijau segera menyala.

Panas. Punggung berkeringat. Lampu merah. Motor pemuda gagah yang menderum-derum. Ibu berblazer dan dua mahasiswi keki. Lengkaplah “derita” terik siang itu.

Rooom… rooom. Klak! Giliran sisi kami hampir tiba. Sisi seberang dan samping tampaknya sudah mulai melambat atau menghentikan kendaraan. Rooom… rooom. Klak! Saya melihat wajahnya: senyum tipis, dagu sedikit terangkat, dengan lengan yang memegang stang motor sedikit melebar. Hehe.. harusnya tak perlu dia lakukan bahasa tubuh itu. Dengan melihat semua perlengkapannya saja, saya bisa merasakan kebanggaan itu. Dan, sungguh, sekali lagi, seharusnya dia tidak perlu melakukan rooom-klak—rooom-klak itu. Hanya membuat saya makin minder dengan onthel ini sekaligus membuat si ibu dan mahasiswi makin senewen.

Hijau!

Roooooooooooom… klakkkkkk!

Saya kira motor langsung melaju.

Eh, ternyata tidak! Majunya hanya sedikit, tapi bunyinya derumnya keras sekali! Apa yang terjadi?

Ah! Entah Tuhan mau memperlihatkan apa: rantai motornya putus!

Si ibu menurunkan sedikit kaca jendela, entah bicara apa ke arah si pemuda, sambil melajukan kendaraannya ke arah jalan seberang. Kedua mahasiswi, ikut serta menyampaikan kekesalannya dengan membunyikan klakson panjang sambil bicara, “Makanyaaaaa!…” ke arah pemuda yang tiba-tiba kehilangan gagahnya itu.

Saya, ah, sudahlah, mengayuh dengan berat saja meninggalkan pemuda dan motor gagahnya di tengah jalan itu. Ketimbang ikut-ikutan memaki—padahal ingin sekali—daripada malah kena hajar orang yang sudah menanggung malu berat itu.

Dari seberang jalan, saya masih sempat melihat ke belakang: pemuda itu mendorong motornya dengan kepala menunduk. Lebih tunduk lagi, ketika mobil-mobil dari sisi lain–yang sudah kebagian lampu hijau–membunyikan klaksonnya berulang-ulang karena terhalangi jalannya, karena motor si pemuda gagah yang diseberangkan dengan lambat. Dituntun.

***

drop-cap - hingga hari ini saya masih bertanya-tanya, sebetulnya saat itu Tuhan sedang apa, ya? Jika Ia dipersonalisasikan, apa yang dilakukannya? Tertawa terguling-guling? Berkacak pinggang sambil mengangkat telunjuk? Atau jangan-jangan tersenyum tipis sambil mengangguk-angguk kepala?

Entahlah. Saya tak paham.

Sebab, kita pun kadang kala seperti pemuda yang merasa di puncak zaman itu, merasa menjadi yang terhebat. Bangga dengan sesuatu: prestasi, posisi, profesi, kehormatan, gelar, kemampuan, gadget, brand, dan seterusnya. Namun dengan tiba-tiba “putus rantai, lampu merah, dipermalukan orang, dan menuntun bebannya sendirian”.

Mungkin sudah terjadi berkali-kali.

Dan kita tidak juga kapok

***Gambar discan dengan SimpleScan, diedit dengan GIMP dan Inkscape. Naskah dimuat ulang dari rumah lama.

25. May 2012 by sad_ewing
Categories: Uncategorized | Leave a comment

Menanti Pergeseran Paradigma “Militansi” UGOS

Harmony

Pak, Bu, Gan,
Epilog ini saya tulis seselesainya jogging rutin di Graha Sabha Pramana UGM. Menikmati kebebasan “berlari dari rutinitas” yang melelahkan. Tergelitik oleh tanggapan Kang Nurdan di kolom “Curah Gagasan”  yang saya tulis di naskah terakhir dalam paperless office PPTIK UGM.

ilitansi dengan Open Source itu hal biasa. Minoritas, elit, kelompok tertekan, dan eksklusif akan mengalami hal sejenis. Kita yang pernah muda (usia dan pengalaman) mungkin mengalami idealisme itu. Demikian pula gerakan ini: muda, handal, militan, cekatan. Berbanding terbalik dengan generasi muda lainnya yang berada di seberangnya: pragmatis, tinggal pakai, praktis, dan lebih banyak pada tuntutan ketimbang membangun kemandirian.

Di ujung lain, sebuah sisi mulia sudah berada di depan mereka: kearifan. Kearifan akan datang berbarengan dengan waktu. Pengalaman dan kerasnya realitas membuat lunak semua idealisme dan mengarah kepada gaya membangun sambil mengikuti harmoni.

Saya percaya ini juga mulai dirasakan para penggerak Open Source di PPTIK dan UGM saat ini.

Saya paham acara sosialisasi program dan lisensi Microsoft seperti kemarin (07/05/12)  ada yang memahami secara frontal sebagai “pengkhianatan” pada gerakan Open Source. Saya maklumi. Saya pahami, toh saya juga merasakan hal yang sama dulu ketika Pak Bambang–orang yang saya hormati–mulai mengeluarkan statemen yang saya anggap tidak berpihak pada gerakan Open Source seperti “Kita juga harus memperhatikan sentimen pasar!” atau seperti Pak Khabib yang menyatakan “MIPA berhak memilih OS dan aplikasi yang akan digunakan”–padahal saat itu kami tim UGOS dan BuGOS sedang berjuang tetap hidup di tengah dihentikannya program UGOS sebagai gerakan masif.

Itu dulu.

***

ergeseran paradigma elit dan fanatis inilah yang saya harapkan juga berjalan secara alami di gerakan UGOS sekarang. Saya akan senang hati terus mendampingi para sahabat muda saya di UGOS sampai pada pamahaman-pemahaman baru yang sesuai dengan zamannya.

Musashi selalu manyatakan sia-sia melawan kekuatan alam. Itu dilakukannya pada sebidang kebun yang dia kelokkan aliran airnya. Kebunnya hancur berantakan oleh hujan satu malam. Maka saya menemukan bahwa mengubah sekotak kecil FIB menjadi Open Source saja membutuhkan waktu 7 tahun, karena saya menentang kehendak zaman dan orang se-FIB yang tidak memahami “kegilaan” saya menyulap FIB menjadi 0% Microsoft.

Ketika saya memahami aliran airnya di tahun-tahun terakhir gerakan ini, dengan menghargai publik yang memilih Microsoft, mengakomodasi kebutuhan TI mereka, saya menjadi semakin didengarkan. “Dakwah” saya mengenai Open Source menjadi lebih diterima. Linux lebih mudah diterima dengan lebih sedikit kernyitan di kening. Berkahnya, 150-an komputer ber-Linux Mint yang dibagikan di jurusan dan diinstalasi di kelas nyaris tanpa riakan penolakan. Bukan itu saja: bermunculan permintaan pelatihan dan pendampingan untuk mengapresiasi Linux sebagai alternatif OS Windows. Berkali-kali, bahkan dari para dosen yang sangat kolot sekalipun.

Dari sana saya menemukan bahwa selain akomodasi pada kebutuhan TIK mereka, memberikan penjelasan tentang harga diri, aspek legal, dan berkah produk halal adalah celah-celah yang menggugah mental blok mereka

***

ungkin saya tidak semakin arif dengan gerakan ini. Cuma, setidaknya, saya menemukan bahwa keadaan membaik di saat kita mau berkompromi, menghargai realitas, dan menyesuaikan semuanya agar tetap dalam gerakan harmonis.

Oleh karenanya, saya akan menunggu saat itu. Saat UGOS mengubah paradigmanya menjadi sebuah gerakan yang lebih akomodatif untuk semua platform, sambil terus menyampaikan dakwahnya tentang kebenaran “agama” Open Source.

When the other leave: we remain!

Dimuat ulang dari sini

23. May 2012 by sad_ewing
Categories: Migrasi | Leave a comment

← Older posts